Korea Selatan membuka peluang kemitraan untuk memperkuat investasi PLTS di Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mendukung penanganan perubahan iklim sekaligus mempercepat pengembangan energi terbarukan dan ekonomi hijau di kedua negara.
Perusahaan tenaga surya Korea Selatan berpotensi membawa teknologi dan modal apabila memperoleh kesempatan menggarap proyek di Indonesia. Pemerintah Korea Selatan juga memastikan fasilitas yang dibangun akan melibatkan tenaga kerja lokal.
Korea Selatan Tawarkan Teknologi dan Modal untuk Proyek PLTS
Konselor Kedutaan Besar Korea Selatan di Indonesia Uhm Taeho menyampaikan ketertarikan tersebut dalam Workshop Indonesia Next Generation Journalist Network on Korea pada Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurut Uhm, keterlibatan pekerja Indonesia merupakan bagian alami dari pembangunan proyek. Proses tersebut dapat menjadi sarana pengembangan dan pelatihan tenaga kerja, serta mendorong pengalihan pengetahuan dan teknologi kepada negara tuan rumah.
Rencana kemitraan ini sejalan dengan pembahasan transisi energi antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung dalam kunjungan kenegaraan ke Korea Selatan pada April 2026.
Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin menekankan perlunya kolaborasi untuk menghadapi perubahan iklim dan memenuhi komitmen iklim. Indonesia dan Korea Selatan juga berkomitmen memperkuat kerja sama dalam bidang transisi energi serta ekonomi hijau.
Korea Selatan saat ini memiliki kapasitas energi terbarukan sebesar 37 gigawatt. Berdasarkan target baru yang diumumkan pada 6 April 2026, kapasitas tersebut akan ditingkatkan menjadi 100 GW dalam empat tahun.
Baca Juga: Potensi Investasi Energi Terbarukan Capai 333 GW: IESR Dorong Akselerasi Pemanfaatan
Program PLTS 100 GWp Membuka Peluang Investasi Besar
Peluang investasi PLTS di Indonesia semakin terbuka setelah pemerintah meluncurkan dan melakukan peletakan batu pertama program PLTS berkapasitas 100 gigawatt peak atau GWp.
Pada tahap awal, program tersebut mencakup 14 PLTS dengan kapasitas total 5,3 GWp. Lokasinya tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kepulauan Bangka Belitung, dan Kepulauan Riau.
Total kebutuhan investasi untuk merealisasikan program PLTS 100 GWp diperkirakan mencapai US$73 miliar atau setara Rp1.140 triliun. Besarnya kebutuhan tersebut memberikan ruang bagi masuknya modal, teknologi, dan pengalaman perusahaan energi surya dari luar negeri, termasuk Korea Selatan.
Kolaborasi tidak hanya berpotensi menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya. Pelibatan tenaga kerja lokal dan proses transfer teknologi juga dapat membantu Indonesia mengembangkan keahlian yang dibutuhkan dalam pembangunan serta pengoperasian fasilitas energi terbarukan.
Kesimpulannya, minat Korea Selatan dapat menjadi peluang strategis bagi investasi PLTS di Indonesia. Realisasi kerja sama diharapkan menghadirkan modal dan teknologi sekaligus memperkuat tenaga kerja lokal, transisi energi, serta upaya kedua negara dalam menangani perubahan iklim.
Demikian informasi seputar perkembangan investasi PLTS di Indonesia. Untuk berita ekonomi, bisnis dan investasi terkini lainnya hanya di Postmineral.Com.





